Senin, 31 Oktober 2016

Etika Dalam Pasar Oligopoli

Pasar oligopoly adalah pasar yang didalamnya terdapat beberapa penjual terhadap 1 komoditi sehingga tindakan 1 penjual akan mempengaruhi tindakan penjual lainnya. Jika produknya homogen disebut oligopoli murni (pure oligopoly). Jika produknya berbeda corak disebut oligopoli beda corak (differentiated oligopoly).

Dalam pasar oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan pasar, di mana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing mereka. Sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga, dan sebagainya dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka.

Praktek oligopoli umumnya dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menahan perusahaan-perusahaan potensial untuk masuk kedalam pasar, dan juga perusahaan-perusahaan melakukan oligopoli sebagai salah satu usaha untuk menikmati laba normal di bawah tingkat maksimum dengan menetapkan harga jual terbatas, sehingga menyebabkan kompetisi harga diantara pelaku usaha yang melakukan praktek oligopoli menjadi tidak ada. Struktur pasar oligopoli umumnya terbentuk pada industri-industri yang memiliki capital intensive yang tinggi, seperti, industri semen, industri mobil, dan industri kertas.

Asumsi yang mendasari kondisi di pasar oligopoli adalah pertama, penjual sebagai price maker. Penjual bukan hanya sebagai price maker, tetapi setiap perusahaan juga mengakui bahwa aksinya akan mempengaruhi harga dan output perusahaan lain, dan sebaliknya. Kedua, penjual bertindak secara strategik. Asumsi ketiga, kemungkinan masuk pasar bervariasi dari mudah (free entry) sampai tidak mungkin masuk pasar (blockade), dan asumsi keempat pembeli sebagai price taker. Setiap pembeli tidak bisa mempengaruhi harga pasar.

Pasar oligopoli model kurva patah diformulasikan oleh Sweezy. Dalam model ini keseimbangan perusahaan ditentukan pada waktu garis permintaan yang dihadapi produsen patah. Karena pada tingkat ini berarti MR yang dihadapi produsen sama besar dengan MC-nya, memang secara umum dapatlah diutarakan bahwa kurva MR dapat berpotongan dengan kurva MC di mana saja pada bagian kurva MR yang patah. Hal ini bermakna bahwa adanya perubahan struktur biaya produksi tidak akan berpengaruh terhadap tingkat output dan harga keseimbangan perusahaan. Berbentuk patah kurva permintaan yang dihadapi oligopolis ini mencerminkan perilaku oligopolis di pasar, yaitu apabila ia menurunkan tingkat harga jual, maka ia mengharapkan produsen pesaingnya akan mengikuti kebijaksanaannya. Akan tetapi kalau ia menaikkan harga jual maka produsen pesaingnya tidak akan mengikuti kebijaksanaan. Bentuk kurva permintaan yang patah adalah manifestasi dari adanya ketidakpastian oligopolis terhadap perkiraan perusahaan pesaing apabila ia menurunkan tingkat harga jual. Model ini dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa dalam pasar oligopoli tingkat harga output yang terjadi di pasar cenderung tetap tidak berubah-ubah.

Menurut Sweezy, ciri reaksi oligopolis jika terjadi perubahan harga adalah jika suatu oligopolis menurunkan harga maka oligopolis cenderung juga akan menurunkan harga karena tidak mau kehilangan konsumen dan  jika oligopolis menaikkan harga maka akan kehilangan konsumen karena oligopolis lain tidak menaikkan harga dan akan mendapat tambahan konsumen dengan tanpa melakukan reaksi apapun. Hal ini menyebabkan kurva permintaan yang dihadapi oligopolis merupakan kurva yang patah (kinked demand curve).

Karakteristik pasar oligopoly :

  • Hanya terdapat sedikit perusahaan dalam industry.
  • Produknya homogen atau terdiferensiasi.
  • Pengambilan keputusan yang saling mempengaruhi.
  • Kompetisi non harga.
Penyebab terbentuknya pasar oligopoly :

Efisiensi skala besar di dalam efisiensi teknis (teknologi) dan efisiensi ekonomi (biaya produksi). Profit hanya bisa tercipta apabila perusahaan mampu mencapai tingkat efisiensi. Efisiensi teknis menyangkut pada penggunaan teknologi dalam proses produksi. Kemampuan produsen dalam menempatkansumber daya secara optimal. Efisiensi ekonomi menyangkut pada biaya produksi. Bagaimana mengatur biaya pada komposisi yang tepat sehingga harga yang dipasarkan merupakan harga yang bisa diterima pasar dan produsen.

Ciri-ciri pasar Oligopoli:
1. Terdapat banyak pembeli di pasar.
Umumnya dalam pasar oligopoly adalah produk-produk yang memiliki pangsa pasar besar dan merupakan kebutuhan sehari-hari, seperti semen, Provider telefon selular, air minum, kendaraan bermotor, dan sebagainya.
2. Hanya ada beberapa perusahaan(penjual) yang menguasai pasar.
3. Umumnya adalah penjual-penjual (perusahaan) besar yang memiliki modal besar saja (konglomerasi).
Karena ada ketergantungan dalam perusahaan tersebut untuk saling menunjang. Contoh: bakrie group memiliki pertambangan, property, dan perusahaan telefon seluler (esia)
4 Produk yang dijual bisa bersifat sejenis, namun bisa berbeda mutunya.
Perusahaan mengeluarkan beberapa jenis sebagai pilihan yang berbeda atribut, mutu atau fiturnya. Hal ini adalah alat persaingan antara beberapa perusahaan yang mengeluarkan beberapa jenis produk yang sama, atau hamper sama di dalam pasar oligopoly
5. Adanya hambatan bagi pesaing baru.
Perusahaan yang telah lama dan memiliki pangsa pasar besar akan memainkan peranan untuk menghambat perusahaan yang baru masuk ke dalam pasar oligopoly tersebut.
Diantaranya adalah bersifat kolusif, dimana antar pesaing dalam pasar oligopoly membuat beberapa kesepakatan masalah harga, dan lain-lain. Perusahaan baru akan sulit masuk pasar karena produk yang mereka tawarkan meskipun mutu dan harganya lebih unggul, tapi peranan Brand image melalui periklanan mengalahkan hal tersebut.
6. Adanya saling ketergantungan antar perusahaan (produsen).
Keuntungan yang didapatkan bergantung dari pesaing perusahaan tersebut. Yaitu adanya tarik menarik pangsa pasar (Market share) untuk mendapatkan profit melalui harga jual bersaing sehingga tidak ada keuntungan maksimum.
7. Advertensi (periklanan) sangat penting dan intensif.
Untuk menciptakan brand image, menarik market share dan mencegah pesaing baru.
Peranan koperasi dalam pasar jenis oligopoly.
Regulasi/Price agreement.
Untuk mencegah persaingan harga yang ekstrim, beberapa perusahaan atau pemerintah menetapkan aturan mengenai harga standar sehingga tidak ada persaingan harga yang mencolok.
Peran koperasi di didalam pasar oligopoly adalah sebagai retailer (pengecer), dikarenakan untuk terjun ke dalam pasar oligopoly ini diperlukan capital intensive (modal yang tinggi). Koperasi dapat berperan sebagai pengecer produk berbagai jenis dari beberapa produsen. Keuntungan diperoleh dari laba penjualan.

Contoh kasusnya adalah persaingan antar perusahaan telekomunikasi seluler yang tidak mempunyai etika dalam mempromosikan produknya. Baik di media cetak maupun elektronik. Mereka secara tidak langsung menyindir pesaingnya dengan iming-iming tarif telepon yang lebih murah, padahal harga murah belum tentu kualitasnya juga bagus karena banyak perusahaan telekomunikasi seluler yang mempromosikan tarif murah namun kualitasnya juga murahan. Misalnya tarif telepon gratis dari pukul 00.00 – 08.00, kenyataannya memang gratis namun tiap 10 menit akan putus dengan sendirinya dan untuk menelpon kembali akan sulit menyambung. Adapun operator yang menetapkan tarif murah namun jaringannya jelek atau ada juga yang mengiming-imingi bonus tapi pada kenyataannya terdapat syarat dan ketentuan yang susah. Itulah contoh dari ketidakmampuan perusahaan telekomunikasi seluler dalam menghadapi pasar persaingan oligopoli. Mereka lebih cenderung berorientasi pada laba tanpa melihat etika dalam berbisnis yang baik.

https://thiyo90.wordpress.com/2012/01/03/kaitan-etika-bisnis-dengan-pasar-oligiopoli-dan-pasar-monopoli/






Senin, 03 Oktober 2016

NORMA & ETIKA DALAM PRODUKSI

NORMA & ETIKA
Pengertian Produksi yaitu produksi yang menghasilkan barang dan jasa baru sehingga dapat menambah jumlah, mengubah bentuk, atau memperbesar ukurannya. Misalnya beternak dan bercocok tanam.
           Produksi diartikan sebagai kegiatan untuk meningkatkan atau menambah daya guna suatu barang sehingga lebih bermanfaat. Misalnya pertukangan dan kerajinan.
 Tujuan Produksi antara lain:
a. Memperbanyak jumlah barang dan jasa.
b. Menghasilkan barang dan jasa yang berkualitas tinggi.
c. Memenuhi kebutuhan sesuai dengan peradaban.
d. Mengganti barang-barang yang rusak atau habis.
e. Memenuhi pasar dalam negeri untuk perusahaan dan rumah tangga.
f. Memenuhi pasar internasional.
g. Meningkatkan kemakmuran.
      Proses Produksi adalah suatu kegiatan yang dilakukanmelalui tahapan-tahapan tertentu untukmenghasilkan atau menambah manfaatbarang atau jasa.

Etika Produksi
Dalam proses produksi, subuah produsen pada hakikatnya tentu akan selalu berusaha untuk menekan biaya produksi dan berusaha untuk mendapatkan laba sebanyak banyaknya. Dalam upaya produsen untuk memperoleh keuntungan, pasti mereka akan melakukan banyak hal untuk memperolehnya. Termasuk mereka bisa melakukan hal hal yang mengancam keselamataan konsumen. Padahal konsumen dan produsen bekerjasama. Tanpa konsumen, produsen tidak akan berdaya. Seharunyalah produsen memeberi perhatian dan menjaga konsumen sebagai tanda terima kasih telah membeli barang atau menggunakan jasa yang mereka tawarkan. Namun banyak produsen yang tidak menjalankan hal ini. Produsen lebih mementingkan laba. Seperti banyaknya kasus kasus yang akhirnya mengancam keselamatan konsumen karena dalam memproduksi, produsen tidak memperhatikan hal hal buruk yang mungkin terjadi pada konsumen. Bahkan, konsumen ditipu, konsumen ditawarkan hal-hal yang mereka butuhkan, tapi pada kenyataannya, mereka tidak mendapat apa yang mereka butuhkan mereka tidak memperoleh sesuai dengan apa yang ditawarkan.
Pandangan Kontrak Kewajiban Produsen Terhadap Konsumen
Hubungan antara perusahaan dengan konsumen pada dasarnya merupakan hubungan kontraktual, dan kewajiban moral perusahaan pada konsumen adalah seperti yang diberikan dalam hubungan kontraktual.
Jadi, perusahaan berkewajiban untuk memberikan produk sesuai dengan karakteristik yang dimaksud dan konsumen memiliki hak korelatif untuk memperoleh produk dengan karateristik yang dimaksud.
-  Kewajiban untuk Mematuhi
Kewajiban untuk memberikan suatu produk dengan karakteristik persis seperti yang dinyatakan perusahaan, yang mendorong konsumen untuk membuat kontrak dengan sukarela dan yang membentuk pemahaman konsumen tentang apa yang disetujui akan dibelinya.
Jadi, pihak penjual berkewajiban memenuhi klaim yang dibuatnya tentang produk yang dijual. Tidak seperti Wintherop Laboratories memasarkan produk penghilang rasa sakit yang oleh perusahaannya diklaim sebagai obat nonaddictive (tidak menyebabkan ketergantungan). Selanjutnya seorang pasien yang menggunakan produk tersebut menjadi ketergantungan dan akhirnya meninggal karena over dosis.
-  Kewajiban untuk Mengungkapkan
Penjual yang akan membuat perjanjian dengan konsumen untuk mengungkapkan dengan tepat apa yang akan dibeli konsumen dan apa saja syarat penjualannya. Ini berarti bahwa penjual berkewajiban memberikan semua fakta pada konsumen tentang produk tersebut yag dianggap berpengaruh kepada keputusan konsumen untuk membeli.
Contoh, jika pada sebuah produk yang dibeli konsumen terdapat cacat yang berbahaya atau beresiko terhadap kesehatan dan keamanan konsumen, maka harus diberitahu.
-  Kewajiban untuk Tidak Memberikan Gambaran yang Salah
Penjual harus menggambarkan produk yang ia tawarkan dengan benar, ia harus membangun pemahaman yang sama tentang barang yang ia tawarkan di piiran konsumen sebagaimana barang tersebut adanya. Jangan sampai terjadi Misrepresentasi bersifat koersif , yaitu, seseorang yang dengan sengaja memberikan penjelasan yang salah pada orang lain agar orang tersebut melakukan sesuatu seperti yang diinginkannya, bukan seperti yang diinginkan orang itu sendiri apabila dia mengetahui yang sebenarnya.
Contoh: pembuat perangkat lunak atau perangkat keras computer memasarkan produk yang mengandung ‘bug’ atau cacat tanpa memberitahu tentang fakta tersebut.
-  Kewajiban untuk Tidak Memaksa
Penjual berkewajiban untuk tidak memanfaatkan keadaan emosional yang mungkin mendorong pembeli untuk bertindak secara irasional dan bertentangan dengan kepentingannya, tidak memanfaatkan ketidaktahuan, ketidakdewasaan, kebodohan, atau faktor lain yang mengurangi atau menghapuskan kemampuan pembeli untuk menetapkan pilihan secara bebas.

http://rivanto11.blogspot.co.id/2015/10/norma-dan-etika-dalam-pemasaran.html?m=1
http://andiinugrohoo.blogspot.co.id/2014/01/etika-dan-norma-dalam-bidang-produksi.html?m=1

Minggu, 27 Desember 2015

CSR PT ADHI KARYA



Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR)

Wujud kepedulian Perseroan kepada masyarakat dan lingkungan sekitarnya menjadi komitmen dan tanggung jawab Perseroan dalam menerapkan falsafah usaha ADHI. Falsafah ini mendorong ADHI untuk mengembangkan bisnisnya berbanding lurus dengan kepentingan lebih luas yang dimiliki masyarakat dimana ADHI beroperasi - menunjang pertumbuhan ekonomi setempat dalam rangka meningkatkan kualitas hidup.


Tanggung Jawab Sosial Perusahaan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari misi korporasi ADHI Principles, dimana ADHI bertujuan untuk:
  • Menjadi mitra masyarakat sekitar untuk menunjang pemberdayaan ekonomi menuju kesejahteraan serta kebersinambungan, dalam rangka mengentaskan kemiskinan .
  • Menjadi agen perubahan sosial demi peningkatan kualitas hidup yang berkaitan dengan pendidikan dan kehidupan spiritual.
  • Menjadi inisiator dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.
TANGGUNG JAWAB SOSIAL
Tanggung Jawab Sosial ADHI tercantum pada butir kelima misi Perseroan, yang juga mengacu pada UU No. 40 tentang Perusahaan Terbatas, Pasal 47 Bab 5 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, selain juga Peraturan Meneg BUMN PER-05/MBU/2007 yang telah disempurnakan beberapa kali, hingga perubahan terakhir PER-08/MBU/2013 yang mangatur pelaksanaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) untuk Badan Usaha Milik Negara.
Pada tahun 2013, Perseroan melaksanakan kegiatan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan sebagai berikut:
  1. ADHI terus mendukung program Millenium Development Goals (MDG), terutama yang mengacu pada sasaran MDG ke-4 dan ke-5, yaitu “Reduce Child Mortality dan Improve Maternal Health”. Diantara beberapa inisiatif, Perseroan menyediakan ruang menyusui, dalam rangka mendorong karyawati ADHI untuk memberikan ASI kepada bayi mereka sekalipun tetap bekerja di lingkungan Perseroan.
  2. Pada sasaran ke-3 MDG, yaitu “Promote Gender Equality and Empower Women”, ADHI memberikan pelatihan kewirausahaan bagi Ibu Rumah Tangga yang menjalankan usaha mikro untuk mendukung perekonomian keluarga. Kegiatan ini dilakukan di sekitar Kantor Pusat Perseroan di Jakarta Selatan. Pelatihan bertujuan meningkatkan keterampilan serta menunjang kegiatan usaha mereka, dan dilaksanakan bekerja sama dengan Rumah Zakat.
  3. Bekerja sama dengan Pemda DKI, ADHI melaksanakan kegiatan sosial dalam bentuk Program Rumah Hijau serta perbaikan beberapa rumah warga di Kelurahan Cilincing, Jakarta Utara. Selain itu, ADHI merenovasi ruang serba guna umum menjadi sebuah Rumah Pintar dimana warga dapat memiliki akses ke pengetahuan dan informasi melalui buku, majalah dan media elektronik.
  4. Dalam memenuhi sasaran MDG lainnya, yaitu “Ensure Enviromental Sustainability” yang berdampak langsung bagi masyarakat setempat maupun generasi mendatang, ADHI bekerja sama dengan Pemda Kota Bandung membantu pembuatan Biopori, yang berfungsi sebagai lobang resapan air serta dapat menampung sampah organik untuk dijadikan bahan pupuk organik yang bermanfaat bagi tanaman.
  5. Kegiatan CSR juga dilaksanakan oleh ADHI di berbagai wilayah Nusantara, sebagaimana tertera pada tabel berikut ini:
No
Nama Proyek
Lokasi
Deskripsi Nilai(Rupiah)
1
The Convergence Indonesia MEP
Jakarta
45.876.464
2
GOR Gede Bage - Bandung
Bandung
450.000.000

TOTAL

495.876.464

PROGRAM BINA LINGKUNGAN

Program Bina Lingkungan tetap merupakan aktivitas kunci dalam program CSR ADHI yang dapat digolongkan ke dalam beberapa kategori, yaitu (i) pemberdayaan perekonomian masyarakat, (ii) pendidikan, (iii) pelestarian lingkungan alam, (iv) pembangunan fasilitas umum, dan (v) bantuan bencana alam.

Dalam hal program pemberdayaan, ADHI bekerja sama dengan alumni ITB Angkatan 74 memberikan bantuan program Pemberdayaan Desa yang berlokasi di lereng Gunung Halimun Bogor. Tujuan Program Pengembangan Desa Lereng Gunung Halimun ini adalah memberdayakan masyarakat dalam membuat perencanaan dan pengembangan desa yang berkelanjutan.
ADHI juga berperan dalam program pemberdayaan perempuan bekerja sama dengan Rumah Zakat. Kegiatan dilakukan di Kelurahan Pejaten Timur, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Warga dilatih melakukan Backyard Farming dan Pengolahan Sampah Organik. Penerima langsung manfaat program ini adalah warga RW 01, RW 07, RW 09 dan RW 11, sebanyak 50 orang. Secara tidak langsung kegiatan ini diharapkan berpengaruh pada kurang lebih 1.200 KK yang berada dalam cakupan kawasan administrasi tersebut.
Dukungan di bidang pendidikan merupakan bagian penting dalam program CSR ADHI, antara lain memberikan bantuan berkelanjutan pembangunan fasilitas pendidikan di Desa Parigi Bogor. Kegiatan ini juga merupakan kerja sama dengan alumni ITB Angkatan 74.
Fasilitas pendidikan yang dibangun adalah:
• Ruang serba guna, ruang kelas, ruang perpustakaan
• Asrama Putra 6 x 12 m, kapasitas 20 orang
• Asrama Putri 6 x 12 m, kapasitas 20 orang
• Rumah Guru & Wisma Tamu @ 6 x 8 m
• Gedung teater terbuka (amphitheater)
• Ruang Terbuka
• Tempat Parkir
Pelestarian lingkungan juga merupakan aktivitas utama program CSR ADHI. Bantuan yang diberikan pada tahun 2014 antara lain untuk penanaman kopi, alpukat, pohon  jabon di Desa Mekarlaksana, Kecamatan Ciparay, Bandung, Jawa Barat.
ADHI juga selalu siap memberikan bantuan bagi masyarakat yang menjadi korban bencana alam. Pada tahun 2014 Indonesia mengalami beberapa bencana alam, antara lain letusan gunung berapi, gempa bumi dan banjir yang merugikan masyarakat. Untuk korban banjir di wilayah Jakarta Selatan, pada tanggal 24 Januari 2014 ADHI memberikan bantuan berupa sembako dan obat-obatan.
ADHI menyalurkan bantuan untuk program bina lingkungan dengan rincian sebagai berikut:
Deskripsi
Dalam Rupiah
2012
2013
2014

Program Bina Lingkungan berdasarkan Jenis Bantuan

Bantuan Korban Bencana Alam
-
100.000.000
148.000.000

Bantuan Pendidikan dan / atau pelatihan
206.483.000
65.000.000
219.000.000

Bantuan Peningkatan Kesehatan
2.500.000
34.000.000
20.057.100

Bantuan Pengembangan Prasarana dan Sarana Umum
64.500.000
-
106.000.000

Bantuan Sarana Ibadah
50.000.000
29.500.000
139.500.000

Bantuan Pelestarian Alam
250.000.000
40.000.000
100.000.000

Total
573.483.000
268.500.000
732.557.100

Program Bina Lingkungan berdasarkan Wilayah

DKI Jakarta
302.983.000
232.500.000
395.557.100

Banten
13.000.000
-
2.000.000

Jawa Barat
189.500.000
18.000.000
257.500.000

Jawa Tengah
13.000.000
-
25.000.000

Jawa Timur
40.000.000
6.000.000
52.500.000

Lampung
-
2.000.000
-

Sumatera bagian Barat, Riau, Utara & Aceh
15.000.000
10.000.000
-

Kalimantan Timur
-
-
-

Sulawesi Selatan
-
-
-

Papua
-
-
-

Total
573.483.000
268.500.000
732.557.100


STRATEGI KEBERLANJUTAN

Sustainability Development adalah prioritas bagi ADHI dalam upaya menjadi perusahaan konstruksi terkemuka di Asia Tenggara. ADHI yakin bahwa dalam pertumbuhannya, Perseroan harus mampu memberikan manfaat terbaik bagi segenap Pemangku Kepentingan.


Laporan Keberlanjutan ADHI merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Laporan Tahunan ADHI yang disusun setiap tahun. Kedua laporan ini saling melengkapi satu sama lain dalam menyajikan kinerja bisnis Perseroan yang memiliki dampak terhadap unsur-unsur 4P yaitu Profit, People, Planet dan Product.
Laporan disusun mengacu pada standarGlobal Reporting Initiative (GRI) yang telah diakui oleh perusahaan-perusahaan terkemuka di dunia sebagai Best Practices. Laporan  mencakup kegiatan sosial ADHI dalam kurun waktu 1 Januari 2014 hingga 31 Desember 2014.
ADHI senantiasa berupaya meningkatkan kualitas pelaporan yang disampaikan dari tahun ketahun, sesuai komitmen terhadap prinsip keterbukaan dan transparansi dalam memenuhi kepentingan seluruh pemangku kepentingan, baik internal maupun eksternal.

PROGRAM KEMITRAAN

ADHI melakukan penyaluran dana Program Kemitraan pada tahun 2014 untuk mendukung pengembangan usaha mikro. Total dana yang disalurkan mencapai Rp545.000.000. Alokasi dana terbesar yakni Rp310.000.000 untuk sektor industri, disusul sektor perdagangan sebesar Rp160.000.000 dan Rp75.000.000 untuk sektor jasa. Penyaluran dana terbesar yakni 71% untuk
Deskripsi
Dalam Rupiah
2012
2013
2014

Program Kemitraan berdasarkan Wilayah

DKI Jakarta
300.000.000
-
160.000.000

Banten
220.000.000
-
-

Jawa Barat
1.775.000.000
-
385.000.000

Jawa Tengah
200.000.000
-
-

Jawa Timur
100.000.000
-
-

Bali
-
-
-

Lampung
-
-
-

Sumatera bagian Barat, Riau, Utara & Aceh
-
-
-

Kalimantan Timur
1.000.000.000
-
-

Sulawesi Selatan
-
-
-

Total
3.595.000.000
-
545.000.000

Program Kemitraan berdasarkan Sektor Usaha

Sektor Industri
645.000.000
-
310.000.000

Sektor Perdagangan
605.000.000
-
160.000.000

Sektor Pertanian
1.075.000.000
-
-

Sektor Peternakan
1.050.000.000
-
-

Sektor Perkebunan
-
-
-

Sektor Perikanan
-
-
-

Sektor Jasa
90.000.000
-
75.000.000

Sektor Jasa Lainnya
130.000.000
-
-

Total
3.595.000.000
-
545.000.000

para pengusaha mikro di kawasan Jawa Barat dan sisanya 29% di DKI Jakarta.